1. Kerugian akibat kehilangan waktu
Kemacetan mengakibatkan waktu tempuh perjalanan menjadi lebih lama, sehingga banyak waktu yang hilang selama diperjalanan.
Jarak yang sama jika dalam keadaan normal bisa ditempuh dalam 1 jam, karena kemacetan menjadi 2 jam. Masyarakat telah kehilangan waktu 1 jam diperjalanan.
Bagi masyarakat yang berprofesi sebagai pengusaha atau pedagang mengalami kehilangan kesempatan. kerugian ini secara nominal bisa sangat besar, bahkan bagi beberapa orang yang profesional bisa bernilai milyaran rupiah.
Bagi masyarakat yang berperan sebagai orang tua, mengalami kehilangan waktu untuk mendidik anaknya.
Masalah ini tanpa disadari adalah kerugian negara yang terbesar, karena kerugian ini tidak bisa dinilai dengan uang. Masa depan bangsa Indonesia berada
ditangan generasi penerus yang dididik oleh orang tua dengan waktu sedikit. Pendidikan orang tua secara langsung adalah fondasi bagi anak-anak di masa depannya.
Bagi pelajar/mahasiswa, kehilangan waktu untuk berkarya dan belajar.
Bagi supir, kehilangan produktifitasnya yang berimbas kepada pendapatannya.
Dan berbagai profesi elemen masyarakat lainnya.
Jika rata waktu hilang oleh kemacetan untuk berangkat kerja 1 jam dan pulang kerja 1 jam, maka setiap harinya setiap orang kehilangan 2 jam.
Berapa jumlah orang-orang yang beraktifitas di jakarta setiap harinya? kalikan dengan jumlah hari dalam setahun (misalnya 300 hari).
Misal ada 1 juta orang yang beraktifitas setiap hari, maka total jam kerugiannya adalah
1 juta orang x 2 jam x 300 hari = 600 juta jam.
Jika waktu 1 jam setiap orang dinilai Rp. 10.000 (walaupun banyak orang yang nilainya lebih besar) maka total kerugian adalah Rp. 6 Triliun.
Jika ada 5 juta orang setiap harinya, angka itu tinggal dikalikan lagi.
2. Kerugian subsidi BBM
Setiap kendaraan yang terjebak dalam kemacetan akan menggunakan bahan bakar yang lebih banyak dibandingkan kendaraan itu berjalan.
Rasio konsumsi bahanbakar dengan jarak tempuh akan semakin besar. Misalnya dalam pemakaian normal konsumsi 1 liter untuk 10 km, maka dalam keadaan macet
Konsumsi bahan bakar menjadi 1 liter untuk 6 Km dengan kata lain lebih boros. Mayoritas pengguna kendaraan bermotor di Jakarta menggunakan BBM bersubsidi
Semakin besar konsumsi BBM bersubsidi ini maka subsidi pemerintah akan semakin banyak. Dan subsidi ini hanya digunakan untuk menambah polusi udara.
Ironis sekali bukan?
3. Kerugian usia pakai komponen kendaraan bermotor
Ketika kendaraan terjebak dalam kemacetan, mesin tetap dinyalakan. Waktu operasi mesin tetap bertambah, Sehingga usia pakai mesin akan berkurang.
umur oli mesin juga berkurang. demikian juga komponen lainnya. ketika kondisi kemacetan yang tersendat istilah yang umum digunakan adalah padat merayap.
kopling dan rem sering digunakan sehingga kedua komponen ini semakin cepat rusak, apalagi jika jalan penuh dengan tanjakan.
berapa jumlah kendaraan bermotor di Jakarta? kalikan nilai komponen jumlah kendaraan bermotor ini dengan usia pakainya yang hilang.
4. Kerugian kesehatan akibat polusi kendaraan bermotor
Sudah sangat jelas, jalanan yang macet akan menyebabkan polusi udara yang tinggi. Karena mesin kendaraan yang dinyalakan dalam posisi diam
akan mengeluarkan gas-gas beracun dari kondisi pembakaran yang tidak sempurna. Apalagi kondisi kemacetan yang padat merayap. Jumlah gas-gas beracun yang dihasilkan akan semakin banyak.
Polusi udara dari kendaraan bermotor dapat menyebabkan Infeksi Saluran Pernapasan Atas. Selain itu bisa menyebabkan sakit kepala bagi yang alergi.
Gas CO yang dikeluarkan oleh knalpot kendaraan jika dalam ruangan tertutup dapat mengakibatkan kematian. Bagi anak-anak gas beracun ini bisa menurunkan fungsi otak,
sehingga tingkat intelegensia menjadi rendah.
Pernahkah terpikirkan bahaya polusi udara oleh masyarakat di perumahan/tempat tinggalnya dijadikan jalan tikus oleh pengendara bermotor dengan tingkat kemacetan yang tinggi?
Saat ini biaya berobat semakin mahal, otomatis polusi udara akan menimbulkan dampak yang sangat mahal bagi kesehatan masyarakat.
5. Kerugian kesehatan akibat depresi
Tanpa disadari oleh banyak pihak, masyarakat Jakarta sudah terkena depresi ringan akibat kemacetan yang terjadi setiap hari kerja. Gejalanya terlihat dari perilaku mayoritas pengendara motor di jalan raya.
Mereka cenderung saling serobot dan cenderung tidak tidak disiplin. Bagi mayoritas warga lainnya sudah tampak tanda-tanda sering mengeluh, cepat marah dan mudah tersinggung.
Kesemua itu adalah ciri-ciri orang yang terkena depresi ringan. Berapa biaya terapi ahli kesehatan yang harus dikeluarkan untuk mengobati deperesi yang diderita masyakarat Jakarta?
6. Mahalnya anggaran transportasi berdampak kenaikan harga barang
Dengan bertambah lamanya waktu tempuh mengakibatkan utilisasi kendaraan angkutan yang rendah, produktifitas tenaga supir yang rendah, pemakaian bahan bakar yang tinggi dan
semakin pendeknya usia pakai komponen kendaraan bermotor. Semua komponen harga itu dimasukkan ke dalam ongkos angkut dan dibebankan kepada konsumen ke dalam harga barang.
Harga barang yang seharusnya bisa lebih murah, menjadi lebih mahal. Semua ini akibat dari kemacetan.
7. Rendahnya produktifitas, karena lelah diperjalanan
Semakin lama seseorang duduk di kendaraan selama perjalanan akan membuat orang menjadi lelah, baik sebagai penumpang apalagi pengemudinya.
Energi menjadi banyak yang hilang selama diperjalanan, yang berimbas kepada produktifitas.
Nominal kerugiannya adalah jumlah produktifitas yang hilang dari setiap orang dikalikan jumlah masyarakat Jakarta yang beraktifitas setiap harinya.
Selain kerugian-kerugian secara langsung di atas, masih banyak lagi kerugian tak langsung yang diakibatkan oleh kemacetan di Jakarta.
Semua itu adalah kerugian yang sudah ditanggung oleh negara dan masyarakat selama ini dan akan menjadi seterusnya jika masalah kemacetan di Jakarta tidak juga diselesaikan oleh pemerintah terutama pemerintah daerah dan jajaran lain yang terkait. Mudah-mudahan kemacetan di Jakarta menjadi topik yang sangat diperhatikan oleh semua pihak, sehingga bisa menjadikan Jakarta menjadi lebih baik.